Wednesday, August 26, 2015

Memahami wanita lewat derita


Judul                    : Akar Pule
Penulis                 : Oka Rusmini
Penerbit               : Grasindo
Jumlah Halaman : 145
Tahun Terbit        : 2012

“ Hidup itu, Geg, harus dilawan. Kalau kita lembek, hidup akan melumat kita. Menelan kita hidup-hidup. Kalau kita kuat, hidup akan berpikir dulu sebelum menelan kita. Dia takut.”
Hal 36

            Berbicara tentang wanita tentu tak akan ada habisnya. Dibalik keindahannya, wanita juga menyimpan ribuan warna yang menyimpan ribuan cerita didalamnya. Inilah yang mampu menginspirasi Oka Rusmini dalam setiap karyanya. Setelah berhasil menelurkan “Tarian Bumi”, “Sagra”, “Kenanga”,  dan “Tempurung”, wanita Bali ini kembali melahirkan sebuah karya yang bertema serupa. Feminisme tak pernah habis digali olehnya.
        Membaca Akar Pule seakan kita menelan biji yang bernama “ wanita” lalu membiarkannya mengakar kuat dalam tubuh dan jiwa. Sehingga pembaca turut merasakan emosi yang ditampilkan dalam setiap ceritanya. Oka Rusmini berhasil menusuk pembaca untuk merasakan aspek sosial yang terangkum dalam kumpulan cerpen tentang wanita ini.
            Akar pule lewat penokohan dan latar Balinya yang kental mampu membawa imaji pembaca semakin larut terhadap penindasan yang kerap didapatkan oleh wanita. Tak hanya penindasan pria terhadap wanita saja, penindasan antara wanita dengan wanita pun turut hadir secara imbang dalam buku ini. Tetapi tetap disuguhkan lewat perspektif wanita untuk menunjukan bahwa pemikiran wanita tidak bisa diabaikan begitu saja bahkan suatu saat nanti bisa menjadi bom waktu.
            Kisah-kisah dalam Akar Pule ini didominasi oleh kisah wanita yang terluka baik secara batin maupun fisik. Juga perlawanan terhadap dominasi pria, pergulatan kasta, ketimpangan budaya setempat bahkan pergulatan wanita dengan pikirannya sendiri. Plot yang berlapis juga dimunculkan oleh Oka dalam setiap cerita di buku ini.

Saturday, September 20, 2014

Tentang perjalanan yang tiba-tiba

"Perjalanan tanpa rencana terkadang memang harus dilakukan. Agar dirimu tak mengenal yang namanya kesedihan," kata seorang teman di sebuah angkringan Jogja.

Lantas saya berkata pada teman saya bahwa saya tidak sedang bersedih. Hidup saya bahagia. Perjalanan ini murni saya lakukan karena cerita pendek yang saya tulis akan di pentaskan. Saya ingin melihat bagaimana apresiasi orang lain pada karya saya. Tapi kawan saya yang juga pemain teater itu tak percaya.
"Orang yang sedang berbahagia tidak mungkin menyimpan obat tidur di dompetnya. Apalagi  sampai bolos kuliah. bahkan kamu datang atau tidak pun, cerpenmu tetap dipentaskan," ucap teman saya tapi dengan bahasa jawa.

Baiklah, saya akhirnya mengaku. Hampir seminggu saya tidak tidur malam. Walaupun tidur, paling lama hanya dua jam. Dan saya harap, usai perjalanan yang tiba-tiba saya rencanakan ini, saya bisa tidur lelap.

Tuesday, August 26, 2014

Sendirian? Why Not!

Malioboro di Malam Hari


Siapa bilang traveling sendirian itu membosankan? Justru hal tersebut membuat kita malah jauh dari kesepian. Kesan bosan selama perjalanan ternyata hanya mitos belaka.
            Sebelum bulan ramadan tahun ini datang, saya, Ariska Anggraini, menutup akhir juni dengan menelusuri kota Semarang dan Yogyakarta seorang  diri. Awal petualangan saya mulai dengan menelusuri kota lumpia, Semarang. Jangan kira saya mengenal baik kota Semarang. Saya hanya mengenal eksotisme Lawang Sewu sebagai daya tarik kota lumpia tersebut. Itu pun saya mengenalnya lewat reality show yang mengekspose perihal alam gaib. Berbekal peta yang saya peroleh dari toko buku, petulangan ke Semarang nekat saya lakukan.
            Perjalanan saya mulai dengan menggunakan travel yang berangkat dari kota Malang pada pukul 20.00 WIB. Tepat pukul 06.00 WIB sopir travel menurunkan saya di depan masjid Baiturrahman yang terletak di Simpang Lima. Setelah menggosok gigi dan mencuci muka di toilet masjid, saya pun tertarik untuk mencicipi hidangan yang dijajakan oleh ibu-ibu yang berjualan di depan masjid tersebut.

Tuesday, May 13, 2014

Monumen KNIP: jejak sejarah yang terlupakan

foto : Ariska Anggraini

Siapa yang bakal menyangka di balik hiruk pikuk kota Malang, ternyata menyimpan sebuah kekayaan yang begitu besar. Sebuah kekayaan historis yang memberikan sumbangsih besar terhadap perjalanan bangsa. Sebuah cerita masa silam yang turut menjadi bagian dalam mencapai kemerdekaan.

Kota Malang yang dihiasi oleh berbagai macam mall maupun surga belanja lainnya, ternyata memiliki andil besar dalam proses kemerdekaan bangsa. Belum banyak yang mengetahui hal ini. Sebagian besar orang yang singgah di kota kembang ini, mungkin hanya terlena untuk menikmati wisata belanja maupun taman rekresasi berbayar seperti sengkaling dan sejenisnya.

Menikmati liburan untuk merefresh otak setelah Ujian semester genap, tim perjalanan Kavling 10 Onlinemenyusuri sepanjang kawasan pusat kota Malang. Sepanjang perjalanan, mata kami hanya disuguhi oleh kehebohan berbagai pusat perbelanjaan yang sedang berebut menawarkan diskon besar-besaran. Tak puas dengan hal tersebut, kami memutuskan untuk menikmati senja di alun-alun kota.

Asyik berjalan kaki untuk menikmati senja di alun-alun kota, tiba-tiba mata kami tertuju pada sebuah monumen kecil yang terletak didepan pusat perbelanjaan sarinah Malang yang tak jauh dari alun-alun. Entah karena tertutupi oleh kemegahan pusat perbelanjaan atau karena hal lainnya, banyak orang yang tak menyadari akan keberadaan monumen bersejarah KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Bahkan dalam peta wisata Malang pun tak mencantumkan monumen ini di dalamnya.

Thursday, March 20, 2014

Rindu yang saya temukan dalam buku adik

Seperti ada sesuatu yang memukuli jantung. Begitu rasanya. Persis seperti tahun 2011 lalu. Iya. Saat saya harus terpaksa kuliah di Perikanan (karena inilah saya benci laut) karena tak bisa meyakinkan orang tua saya bahwa bukan jurusan itu yang saya mau.

Seperti itu rasanya, saat saya menemukan tulisan salah satu adik saya (adik saya kembar dan perempuan semua). Tulisan itu tentang kerinduan. Mata saya panas saat membacanya. Juga ada rasa cemburu yang dalam. Persis seperti tahun 2011 lalu. Saat saya cemburu melihat teman-teman saya yang berhasil masuk PTN yang mereka sukai.

tulisan adik saya (palawan adalah nama jalan orang tua kandung mereka tinggal)


Sungguh ini hal yang tak boleh ditiru. Tapi bukankah itu hal yang biasa dalam hal mencintai. Mencintai memang identik dengan ingin memiliki. Lantas bagian mana yang salah jika saya hanya ingin adik adik saya hanya menjadi milik saya dan orang tua saya.

SURGA IBU

Bu, di dalam kotak bekal yang kau titipkan
Aku melihat wajah ayumu
Menari di pelupuk mata
Maka, meluaplah embun itu di mataku
Bersama gerimis, dan mendung di penghujung hari

Dan ibu, aku merengkuh rindu
Kepada sewindu lebih yang telah lalu
Di rahimmu, aku merajut tangis
Menyusu luka menjadi cinta yang utuh

Friday, March 14, 2014

Aliran Naturalis dalam Kesusastraan Prancis dan Indonesia

Karya sastra merupakan gambaran terhadap realitas dunia. Sebagai wujud penggambaran realitas dunia, maka kehidupan manusia cenderung menjadi latar belakang dalam terciptanya karya sastra.  Begitu pula dengan sastrawan asal Prancis yang bernama Émile Zola.
Dilatar belakangi kehidupan masyarakat pada masanya, Émile Zola berhasil menciptakan sebuah karya berjudul ‘Germinal’. ‘Germinal’ merupakan novel ketiga belas Émile Zola yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bahkan pada tahun 1993, industri perfilman pun turut mengadopsi novel ini sebagai film layar lebar dengan judul yang sama.
Pada mulanya, ‘Germinal’ merupakan sebuah cerita bersambung yang muncul di sebuah majalah terbitan tahun 1884. Kemudian pada tahun 1885 karya tersebut muncul dalam bentuk novel. Karya yang menggambarkan kehidupan kaum buruh di sebuah industri pertambangan ini, kehadirannya sempat dikecam oleh para politikus sayap kanan. Karya tersebut dianggap sebagai propaganda untuk menyerukan revolusi.
Dalam novel ini, Émile Zola menggambarkan realitas penderitaan kaum buruh yang dapat memunculkan pertentangan antar kelas dengan kaum borjuis. Pertentangan antar kelas tersebut berhasil digambarkan Émile Zola lewat dominasi kaum borjuis terhadap kaum buruh. Selain pertentangan antar kelas, karya tersebut juga menggambarkan adanya jurang sosial yang dalam antara kaum buruh dan borjuis pada masa itu. Selain itu, kita juga bisa merasakan penderitaan besar yang dirasakan kaum buruh juga praktik kapitalisme yang digambarkan oleh Emile Zola lewat pengeksplorasian tambang batu bara secara besar-besaran.